GERD (gastroesophageal reflux disease) adalah kondisi ketika isi lambung, termasuk asam lambung, sering naik kembali ke kerongkongan. Merasakan refluks sesekali adalah hal yang wajar, tetapi bila terjadi berulang dan mengganggu aktivitas atau tidur, kondisi ini perlu dikenali dan ditangani. Halaman ini merangkum hal-hal dasar tentang GERD. Untuk gambaran yang lebih luas, baca juga penjelasan tentang asam lambung.
Informasi di halaman ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau pengobatan dari dokter. Jika keluhan berat, berulang, atau tak kunjung membaik, segera periksakan diri.
Apa yang Terjadi pada GERD?
Di antara kerongkongan dan lambung terdapat otot berbentuk cincin yang berfungsi seperti katup. Saat kita menelan, katup ini terbuka sebentar lalu menutup kembali agar isi lambung tidak naik. Pada GERD, katup tersebut melemah, terbuka pada saat yang tidak tepat, atau tekanan di dalam perut terlalu tinggi sehingga cairan lambung terdorong ke atas. Dinding kerongkongan tidak dirancang untuk tahan terhadap asam, sehingga paparan yang berulang dapat menimbulkan rasa terbakar dan peradangan.
Gejala GERD
Gejala yang paling khas adalah heartburn, yaitu sensasi panas atau terbakar di tengah dada yang sering muncul setelah makan, saat membungkuk, atau ketika berbaring. Gejala lain yang dapat menyertai:
- Rasa asam atau pahit di mulut karena cairan lambung naik (regurgitasi).
- Sendawa berlebihan, rasa penuh, atau mual.
- Batuk kering yang berkepanjangan, terutama malam hari.
- Suara serak, tenggorokan terasa mengganjal, atau sering berdeham.
- Sulit tidur karena keluhan memburuk saat berbaring.
Perlu diingat bahwa nyeri dada tidak selalu berasal dari lambung. Nyeri dada yang baru muncul, terasa menekan, atau disertai sesak harus dianggap serius sampai dokter menyingkirkan penyebab jantung.
Bedanya dengan Asam Lambung Biasa dan Maag
Istilah “asam lambung naik” sering dipakai untuk semua keluhan, padahal tidak semuanya GERD. Refluks yang terjadi sesekali setelah makan besar biasanya bukan GERD. Keluhan nyeri atau perih di ulu hati tanpa rasa panas yang naik ke dada lebih sering disebut maag atau dispepsia, sedangkan peradangan dinding lambung disebut gastritis. Ketiganya dapat tumpang tindih pada satu orang, itulah sebabnya pemeriksaan dokter membantu memastikan penyebabnya.
Faktor yang Dapat Memicu atau Memperberat
- Kebiasaan makan: porsi besar, makan terlalu cepat, dan berbaring kurang dari 2–3 jam setelah makan.
- Makanan dan minuman tertentu: makanan berlemak, gorengan, pedas, cokelat, minuman berkafein, bersoda, atau beralkohol. Pemicu berbeda pada tiap orang.
- Kelebihan berat badan: lemak di perut meningkatkan tekanan pada lambung.
- Kehamilan: perubahan hormon dan tekanan dari rahim.
- Merokok dan paparan asap rokok.
- Obat tertentu, misalnya beberapa obat nyeri atau tekanan darah. Jangan menghentikan obat tanpa berkonsultasi dengan dokter.
- Hernia hiatus, yaitu sebagian lambung yang bergeser ke atas melalui otot diafragma.
Komplikasi bila Dibiarkan
Refluks yang berlangsung lama dan tidak ditangani dapat menyebabkan peradangan kerongkongan (esofagitis), luka, atau penyempitan sehingga makanan sulit ditelan. Pada sebagian kecil orang, paparan asam kronis mengubah lapisan kerongkongan, kondisi yang disebut Barrett’s esophagus dan perlu dipantau dokter. Risikonya kecil, tetapi inilah alasan keluhan yang menetap tidak boleh diabaikan.
Bagaimana Dokter Mendiagnosis GERD?
Pada banyak kasus, dokter cukup menegakkan dugaan GERD dari gejala dan riwayat Anda. Bila ada tanda bahaya atau keluhan tidak membaik dengan pengobatan, dokter dapat menyarankan endoskopi untuk melihat kerongkongan secara langsung, atau pemeriksaan lain seperti pengukuran keasaman (pH) kerongkongan.
Langkah Perawatan Mandiri
Perubahan kebiasaan sering menjadi langkah pertama yang dianjurkan. Hasilnya berbeda-beda pada tiap orang, jadi beri waktu beberapa minggu dan perhatikan apa yang membantu Anda.
- Makan dalam porsi lebih kecil tetapi teratur, kunyah perlahan, dan beri jeda sebelum berbaring.
- Catat makanan atau minuman yang memicu keluhan, lalu kurangi. Tidak semua orang perlu menghindari semua makanan yang disebut sebagai pemicu.
- Tinggikan bagian kepala tempat tidur sekitar 15–20 cm, bukan hanya menumpuk bantal.
- Pilih pakaian yang tidak menekan perut.
- Turunkan berat badan bila berlebih dan berhenti merokok.
- Kelola stres, karena stres dapat membuat keluhan terasa lebih berat.
Pengobatan dari Dokter
Tergantung berat ringannya keluhan, dokter dapat meresepkan obat penetral asam (antasida) untuk meredakan cepat, penghambat reseptor H2, atau penghambat pompa proton yang menekan produksi asam lebih kuat. Obat golongan terakhir biasanya diberikan dalam jangka tertentu dan sebaiknya tidak dipakai terus-menerus tanpa evaluasi. Pada kasus tertentu, misalnya hernia hiatus atau keluhan yang tidak terkendali, dokter dapat mempertimbangkan tindakan lain.
GERD pada Ibu Hamil
Keluhan refluks sangat umum pada kehamilan. Perubahan porsi dan waktu makan serta posisi tidur biasanya menjadi langkah awal. Sebelum memakai obat apa pun, termasuk ramuan herbal, konsultasikan dengan dokter atau bidan karena tidak semua aman untuk ibu hamil dan menyusui.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah GERD bisa sembuh?
Pada banyak orang gejala dapat terkontrol dengan perubahan gaya hidup dan pengobatan yang tepat, tetapi GERD bisa kambuh bila pemicunya kembali. Karena itu perawatan biasanya berupa pengelolaan jangka panjang, bukan solusi satu kali.
Apakah bahan alami bisa menggantikan obat dari dokter?
Beberapa orang merasa terbantu oleh bahan seperti jahe atau pisang, tetapi bukti ilmiahnya terbatas dan responsnya berbeda-beda. Anggap sebagai pendamping, bukan pengganti pemeriksaan dan obat dari dokter.
Apakah GERD berbahaya?
Sebagian besar kasus dapat dikelola, tetapi GERD yang tidak ditangani dapat menimbulkan komplikasi. Segera periksa bila muncul tanda bahaya di bawah ini.
Kapan Harus Segera ke Dokter?
Segera cari bantuan medis bila Anda mengalami salah satu tanda berikut:
- Muntah darah atau muntahan berwarna seperti ampas kopi.
- Buang air besar hitam pekat seperti aspal atau berdarah.
- Sulit atau nyeri saat menelan, atau makanan terasa tersangkut.
- Berat badan turun tanpa sebab yang jelas.
- Nyeri hebat di dada atau perut yang muncul tiba-tiba, terutama bila disertai sesak, keringat dingin, atau nyeri menjalar ke lengan, rahang, atau punggung.
- Gejala berlangsung lebih dari beberapa minggu meski sudah mengubah pola makan dan gaya hidup.
Topik Terkait
GERD sering dikaitkan dengan keluhan lain seperti maag, gastritis, tukak lambung, dan kecemasan yang memengaruhi lambung.